Cerpen Remaja
Sabtu, 07 Januari 2017
^memori Indah Yang Sirna^
Angin subuh menerpa wajahku yang tertutupi masker hellokitty, dan menembus baju hangat tipis yang ku kenakan. “Ajari aku untuk cinta...ajari aku untuk setia...kau beri aku bahagia dalam hidupku...” begitulah lirik lagu yang sedang aku dengarkan dengan headset pink ku. Suasana di jalan raya masih sunyi, hanya beberapa kendaraan saja yang berpapasan dan melewati ku. “gubrakkkk!” motor yang ku kendarai terjatuh, aku kaget bukan main. “eh, maaf maaf aku enggak sengaja, tadi mata ku masih mengantuk jadi aku enggak fokus” ucap cowok berhelm merah dengan melihat ke arah kaki dan tangan ku, “maaf maaf, sakit tau! Ga bisa bawa motor so so an bawa motor” jawab ku kesal dan sedikit menyentak, “Lah, kan aku udah minta maaf, kalau enggak di maafin yaudah terserah” ucapnya dengan langsung menyalakan motor Beat putihnya dan pergi begitu saja. Tak satu jiwa pun yang menolongku saat itu, tapi Tuhan masih menyayangiku, tak ada luka di tubuhku hanya rok pramuka yang ku kenakan beberapa sobek beradu dengan kasarnya aspal. “Rere”, teriak ku berlari menyusul Rere yang hendak berjalan menuju gerbang sekolah, “Lho Lho Lhooo rok kamu di gigit tikus ya, aduuuh Nena cantik-cantik kok jorok gitu sih” ucapnya dengan cengengesan, “Apa sih, ini gara-gara si cowok super duper nyebelin!”, “Wah wah, cowoknya manis dong kaya permen”, “Boro-boro” ucapku dengan nada juteknya. Aku dan Rere mengikuti rapat untuk acara pelantikan calon bantara. Sebagai sekretaris di pramuka aku dan Rere sibuk mempersiapkan dokumen-dokumen. Dalam hal kerja sepertinya aku yang teliti, tapi untuk terjun di Lapangan Rere lah yang oke, karena dia lebih bagus speaknya. “Rere, kau memang rekan kerja ku yang setia hehe” ucapku dalam hati. Waktu terus berlalu tak terasa malam ini malam puncaknya yaitu acara api unggun. Tamu-tamu undangan dari berbagai sekolah pun satu per satu hadir. Saat aku hendak ke tengah Lapangan untuk memanggil salah satu temanku, tiba-tiba kaki ku tersandung batu dan spontan tangan ku memegang tangan orang yang ada di depan ku, “Ups, maaf” kata ku. Lelaki itu langsung membalikan tubuhnya dan kami berekspresi kaget, “Kamu kan yang waktu itu jatuh?”, “Iya ini aku yang enggak kamu tolong”, “heheee” , “Nyengir dia” ucapku dengan nada khas jutek. Dari kejauhan, “Nenaaa” Ilham memanggilku, aku langsung bergegas pergi untuk menghampiri Ilham, dia adalah ketua di ambalan sekolah ku. Dan cowok tadi berkata, “selesai acara aku tunggu di depan api unggun”. Acara di mulai dengan penyalaan obor utama oleh Kak Mabigus SMA Model Pelita, acara demi acara hampir selesai. Beberapa menit kemudian aku langsung bergegas pergi ke tengah Lapang menghampiri cowok tadi. “Hey” ucapku pelan, “Eh kamu,dateng juga oiya kenalin nama aku Dion as-sidiq sekarang kamu udah tau kan nama aku, terserah mau panggil apa aja” ucapnya (tersenyum), “Oh oke (tersenyum), kenalin juga nama aku Nena Az-zahra”. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Pertemuan di Bumi Perkemahan itu membuat jiwa ku nyaman, seakan akan dia adalah realita Tuhan untuk ku. Waktu terus berjalan menapaki jejak kehidupan, aku dan Dion bersahabat tepatnya di tanggal 02 Maret 2015, ke esokan harinya Dion menitipkan sebuah coklat kepada temanku, malamnya dia mengirimkan bbm yang isinya ” anggaplah itu sebagai tanda terimakasih karena Nena udah mau jadi sahabat Dion”. Beribu canda, beribu tawa dan beribu tangis kira rasakan bersama. Kita sering berangkat dan pulang bareng, hangout bareng, main ke rumahnya. Seakan aku tak memerlukan siapa-siapa lagi karena kamu sahabat tersayangku. Sampai suatu ketika Dion mengajak ku makan di suatu tempat, drttttttt......drtttttttt......handpone ku bergetar, “Hallo assalamualaikum”, “Walaikumsalam”, “Na, sore ini Dion tunggu di RM.Padang ya jam 04.00 kamu bisa kan, Dion pengen makan bareng”, “Hari ini??” , “Iya ,ayooo lah” (pintanya memelas), “Iya deh iya aku mau”. Jam sudah menunjukan pukul 03:35 aku bersiap-siap dan langsung menuruni deretan tangga menuju gerbang. “Kiri Pak” ucap ku memberhentikan pak supir, sampai di depan aku bergegas masuk, di meja sudut kanan Dion tampaknya sudah menunggu, aku menghampirinya. “Hai, aku enggak telat kan?”(tersenyum dengan dagu manisnya) ucapku, “Passss Nena cantik ku” jawabnya sambil mencubit hidungku, itulah kebiasaan Dion kalau kita ketemu. Entah mengapa hari ini aku melihat Dion begitu cakep, wajah dia putih bersinar di tambah dia mengenakan kemeja putih yang menyelimuti tubuhnya itu, walaupun Dion mempunyai kulit yang putih, tetapi hari ini putihnya dia sangat berbeda, “Ah Dion kau memang sahabatku yang paling cakep” ucapku dalam hati (tersenyum). Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya di tengah acara makan sore aku dan Dion, “Na, pulang sekarang aja yuk”, “Sekarang??” kan hujan nya deras gitu ah kamu ini, yang ada malah sakit” jawabku heran. Dia langsung menarik tangan ku melangkah keluar menuju parkiran motor, “Nih pake (memberikan jaket)”, “Yah kamu yaudah aku pakai”(memakai jaket parasit biru miliknya). Jarak antara RM Padang ke rumah ku hanya lima belas menit, tetapi Dion mengendarai motor maticnya dengan sangat cepat, kemeja putihnya itu basah kuyup bermandikan air hujan, sungguh aku merasa kasihan, pasti dia sangat kedinginan. Sampai di depan gerbang rumahku, aku menyuruh Dion untuk masuk dulu ke dalam, untuk mengganti bajunya atau sekedar mengeringkan tubuhnya sambil menunggu hujan reda, mama pun tak keberatan kalau Dion main ke rumah, karena Dion sudah seperti saudara dalam keluarga ku, akan tetapi dia menolak ajakan ku, tidak seperti biasanya. (Dion memegang tangan ku) lalu berkata “Na, makasih ya buat hari ini dan buat semuanya, kamu jangan cengeng ya dalam menghadapi apapun kamu bisa kok jalani semuanya, aku sayang kamu” (Dia melepaskan genggaman tanganya) dengan tatapan wajahnya yang begitu pucat. “Aku pulang...”, belum sempat aku menjawab dia langsung tancap gas, dalam hati aku masih bertanya-tanya, tak biasanya Dion bersikap seperti itu, tapi ah ya sudahlah itu hanya perasaan ku saja. Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhku yang ke hujanan dengan air hangat, selesai mandi aku begegas mengeringkan rambutku, drttttttttt.......drtttttttt....... ku hampiri handpone ku yang bergetar, kulihat tertera nama mama Salma, itu adalah mama nya Dion, “Hallo assalamualaikum ma”, “Walaikumsalam sayang kamu cepat ke RS. Kusuma ya nak” tuttt...tuttt.... telepon mati. Aku bergegas pergi, beberapa menit sampai di pintu RS, ku lihat mama Salma sudah menunggu dengan matanya yang berkaca-kaca, “Mama siapa yang sakit ma? Dion mana?”, Mama tak menjawab dan langsung mengajak ku ke ruang UGD. Perlahan ku membuka pintu, betapa terkejutnya tubuhku melemas yang ku lihat adalah Dion orang yang sangat berarti dalam hidupku, dia terbaring kaku dengan masih berlumuran darah, mama bilang dia tabrakan dengan truk ketika hendak pulang. Aku tak percaya orang yang sangat aku sayangi pergi begitu cepat, aku tak sanggup Tuhan air mata terus berlinang membasahi tangan Dion yang ku genggam. Aku sempat depresi selama 2 bulan, dan sampai saat ini sosok Dionn masih terasa dalam setiap memori kenangan indah. Namun aku berpikir kembali aku tak boleh seperti ini, aku harus kuat supaya Dionn bahagia melihat ku, hanya do’a-do’a yang bisa aku beri buat Dion. Aku merindukan mu sahabat.
Langganan:
Postingan (Atom)